Cari Blog Ini

Memuat...

Sabtu, 15 Mei 2010

From Zero To Hero


Jika kita mengacu pada kisah kehidupan orang sukses yang kita kenal maka cenderung diperoleh kesimpulan yang sama bahwa setiap kegagalan adalah peristiwa potensial yang bersifat netral (hidden potential events) yang tidak memiliki makna tertentu kecuali setelah diberi pemaknaan oleh kita: nasib, takdir, siksaan, cobaan, pengalaman/pelajaran, atau tantangan. Apapun makna yang ditandai oleh kita pada akhirnya akan kembali kepada formula bahwa hidup ini merupakan sebuah pilihan dan merasakan konsekuensi dari pilihan itu. "Every adversity, every unpleasant circumstance, every failure, and every physical pain carries with it the seed of an equivalent benefit" kata Ralp Waldo Emerson. Kalimat bijak itu mungkin sangat tepat untuk menggambarkan kegagalan seseorang dan mungkin sedikit orang termasuk saya bisa mengaplikasikan makna yang terkandung dalam kalimat tersebut. Atau ada kata bijak "Kegagalan adalah sukses yang tertunda".

Belajar dari pengalaman beberapa orang tentang gagal atau sukses dapat dikatakan bahwa gagal atau sukses irama kehidupan yang tidak terpisahkan dari kehidupan setiap manusia. Dari situ dapat dibedakan antara sikap orang yang selalu berjuang tiada akhir (unstoppable) yang menghasilkan sebuah kemenangan/kesuksesan dan berhasil mengubah wajah dunia dengan sikap orang yang dikalahkan rasa putus asa karena kegagalan itu yang barangkali terjadi hanya beberapa persen.

Untuk itu sikap orang dalam hal itu dapat dibedakan sebagai berikut:

1. Membiarkan

Sikap ini adalah sikap orang menerima saja setiap kegagalan dengan kualitas penyikiapan yang rendah yaitu berupa membiarkan semua terjadi apa adanya. Sikap ini karena tidak ada kemauan yang dibangkitkan dari dalam dirinya untuk mendobrak keadaan dan menemukan alasan yang rasional untuk setiap kegagalan yang terjadi padanya. Mungkin karena pengetahuannya dan keinginannya erat kaitannya dengan yang dimiliki orang lain dan karena itu jawaban rasionalnya tidak ditemukan. Orang itu hanya memaafkan sikap demikian dan menempatkan setiap kegagalan pada wilayah yang tak tersentuh oleh upaya dirinya dengan meyakini bahwa itu adalah takdir atau nasib saja.

2.Menolak

Model penyikapan ini adalah menolak kegagalan yang dilakukan dengan menyalahkan orang lain, keadaan, atau barangkali Tuhan sekalipun. Biasanya sikap ini karena keseimbangan hidup orang itu yang kurang mendapat perhatian di tingkat intelektual, emosional, atau spiritual. Meski dapat melumpuhkan kegagalan namun akibat dari usahanya ini keseimbangan antara hasil dan usaha tidak sebanding. Seperti halnya orang yang membunuh nyamuk dengan memakai pistol.

3.Menerima

Penyikapan adalah yang paling ideal yaitu menerima kegagalan dengan kualitas tinggi. Bagi orang itu kegagalan adalah pembelajaran diri atau kurikulum pendidikan situasi (learning by experience). Bukan berarti semakin banyak mendapat kegagalan semakin bagus namun yang ingin difokuskan oleh orang itu adalah bagaimana individu menempatkan kegagalan sebagai proses yang menyertai realisasi gagasan. Ingat kata bijak bahwa manusia tidak boleh terperosok ke dalam lubang untuk kedua kalinya. Dari fakta menunjukkan bahwa peristiwa yang belum/tidak berjalan seperti yang diinginkan oleh rencana akan tetapi orang seperti Von Braun, Abraham Lincoln, Edisson, atau orang lainnya yang selalu berusaha merebut tanggung jawab untuk mengubah hidup dari cengkerama fakta fisik yang temporer itu.

Dari ketiga model penyikapan tersebut di terjadi secara begitu saja namun dibentuk oleh beberapa faktor antara lain :

a. Lingkungan orang itu hidup bisa dari keluarga, sekolah, masyarakat, atau negara tempat ia dilahirkan dilahirkan, dibesarkan, tumbuh dan berkembang. Lingkungan salah satu unsur yang mempengaruhi dan dipengaruhi terhadap penyikapan orang terhadap persoalan hidup. Hal itu tergantung dari tingkat pendidikan, nilai kebudayaan, atau peradaban yang membentuk dari lingkungan tersebut. Orang yang dilahirkan dalam lingkungan berbeda bagaimana pun punya format pandangan berbeda tentang persoalan hidup.

b. Sistem struktural. Selain dari lingkungan faktor sistem struktural yang mengatur segala kelembagaan, organisasi, dan perkumpulan sosial tertentu juga punya andil membentuk karakter mentalitas orang dalma menghadapi hidup dan kegagalannya ini. Dengan dipunyainya mentalitas tinggi setiap individu akan menjadi "the cause" (penyebab tertentu) dari peristiwa hidup dibandingkan mentalitas rendahan yang akan membentuk dia sebagai "the effect" (akibat/korban).

c. Personal. Meskipun faktor lingkungan serta sistem struktural yang dapt dimiliki setiap orang dapat mempengaruhi, namun faktor tersebut hanya bersifat menawarkan akan tetapi faktor personal-lah yang menjadi penentu, jawaban akhir untuk menentukan keputusan hidupnya.



Memaknai kegagalan

Tidak bijaksana jika dikatakan ketidakmampuan seseorang untuk memaknai kegagalan ketiga faktor di atas. Justru yang dibutuhkan adalah bagaimana menghasilkan model penyikapan tentang cara kerja hidup dan dunianya. Untuk itu dalam hal memaknai kegagalan maka setiap individu harus menciptakan sendiri langkah-langkah yang membantu untuk bangkit dan berkembang. Langkah-langkah untuk pemaknaan setiap kegagalan itu diantaranya :

A. Menciptakan Kondisi yang Membantu

Makana tidak datang sendiri namun sebagai hasil yang diciptakan oleh usaha untuk menemukannya. Artinya dengan menciptakan kondisi dengan kesadaran orang itu bahwa orang itu sedang menjalani proses hidup untuk mematangkan kualitas pribadinya. Kualitas pengkondisian tersebut akan sebanding dengan hasil akhir yang tersimpan di balik peristiwa hidup yang dialaminya. Untuk itunya diperlukan adanya kesadaran untuk merumuskan tujuan, misi, dan visi hidup orang tersebut di dunia.

B.Menciptakan Perbedaan

Setiap individu harus menciptakan perbedaan antara ketiga model penyikapan tersebut. Untuk itu dengan cara melihat potensi yang dimilikinya dan dari potensi eksternal. Misalnya potensi yang dimilikinya sumber daya fisik, intelektual,emosional, spiritual, mental kejiwaan, sumber daya verbal, visual, dan sosial. Serta sumber daya eksternal yang dimilikinya, sumber daya lingkungan dan sistem struktural. Banyak hal kecil mungkin bisa dilakukan individu yang dapat membantu memperbaiki ketiga model penyikapan yang bisa menjadikan dirinya besar akhirnya. Tapi hal itu jarang atau tidak dilakukan karena sifat manusia yang ingin untuk mendapatkan hasil besar dalam sekejap. Misalnya kesadaran untuk membaca buku keberhasilan orang, mendengarkan musik, olah raga, dll.



C. Menggunakan kemampuan Baru

Hasil akhir dari pembelajaran diri adalah memiliki kemampuan baru, baik kemampuan hardware skill atau software skill. Pada akhirnya dari pengalaman kegagalan yang setiap individu alami adalah mendapatkan nilai plus, kemampuan berkompetisi dari diri individu tersebut terhadap orang lain. Dari pengalaman gagal yang individu alami selayaknya menjadi penbelajaran diri manusia untuk mengambil makna hidup dan hikmah dari peristiwa yang kemudian menjadi kunci untuk mengembangkan dirinya dan hasilnya untuk kepentingan orang banyak.



Akhirnya setiap individu harus bisa mencari makna dan hikmah dari setiap peristiwa hidup yang dialaminya agar dijadikan bahan pelajaran dan kunci untuknya mengembangkan dirinya dan kehidupannya menjadi lebih bermanfaat. Kata kuncinya adalah mencari makna dari peristiwa hidup yang dialaminya, untuk itu harus dicari.



Wallahu'alam

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar